KESAKSIAN: Tiga Perubahan Cara Berpikir dari Beragama ke Menjalin Hubungan


Halo! Salah satu hadiah terbesar dalam hidup Saya adalah mengetahui bagaimana seseorang bisa memiliki hubungan yang lebih dalam dengan Tuhan.

Saya besar di keluarga Kristen. Jadi, kegiatan beragama seperti pergi ke gereja merupakan sebuah kewajiban bagi saya. Saya juga besar melihat orang tua saya berpartisipasi dalam banyak kegiatan, acara, dan proyek gereja. Sebelum saya mengetahuinya, hal ini sudah membentuk bagian besar identitas saya. Akan tetapi, sama seperti hal lain dalam kehidupan ini, ada satu titik atau musim dimana kita ingin membuat arti mengenai hal-hal yang kita lakukan dan mengapa kita melakukannya, kalau tidak hidup ini bisa menjadi kering.

Ketika saya mengacu pada agama di dalam posting-an ini, saya berbicara mengenai praktek kegiatan atau aturan yang Orang Kristen lakukan oleh karna merasa ‘harus’ dan ‘wajib’, daripada oleh karena iman yang benar dan tulus yang didorong oleh Injil Yesus Kristus.

Banyak sekali cara berpikir yang saya harus mengesampingkan dan bahkan hapus sama sekali, di bawah adalah tiga terbesar diantaranya yang sudah mengubah hidup kerohanian saya. Semoga artikel ini bermanfaat untuk perjalanan pribadi Anda bersama Tuhan!

# 1 Cara berpikir “Semakin Besar Gerejanya, Semakin Baik”

# 2 “Saya tidak begitu buruk” ke “Sebenarnya, Saya memang segitu buruk …”

# 3 “Saya akan menyimpan Yesus untuk diri saya sendiri…”


# 1 Cara berpikir “Semakin Besar Gereja, Semakin Baik”

Alkitab mengajar kita bahwa gereja diperoleh oleh Allah dengan darah Yesus yang berharga (Kis. 20:28) dan merupakan tempat bagi kita untuk saling menguatkan dan memberi semangat. Ketika saya mengatakan gereja yang ‘semakin besar', saya merujuknya secara fisik, seperti ukuran gedung, jumlah pengikut, dan hal-hal lainnya. Fasilitas gereja tentu sangat baik, Saya pikir itu adalah sarana penting untuk berkembang dalam persekutuan. Namun, kita seharusnya tidak mengabaikan hal inti yang Yesus inginkan untuk kita - para pengikutnya - miliki, yaitu kasih terhadap satu sama lain (Yoh. 12:34), berkata-kata seorang kepada yang lain dalam mazmur (Efesus 5:19), dan melayani satu sama lain dengan kerendahan hati (Gal. 5:13).

Saya menemukan bahwa ketika saya mengandalkan ukuran gereja saja untuk mendapatkan berkat, saya benar-benar mengandalkan kekuatan manusia daripada kekuatan Tuhan. Ini tidak lebih dari mencoba membatasi Tuhan dan pekerjaan-Nya. Saya tidak menentang gereja-gereja besar, kenyataannya saya telah bersekutu di beberapa gereja dengan banyak pengikut. Mungkin, memang sebuah kecenderungan yang mudah untuk membiarkan hal-hal fisik ini secara keliru menentukan kualitas persekutuan kita. Ini tentu terjadi pada Saya dan saya membutuhkan waktu lama bagi saya untuk menyadarinya! Tetapi Tuhan dalam kasih karunia-Nya telah memanggil saya untuk mengandalkan karya Roh-Nya dan memperlakukan satu sama lain atas dasar kasih yang telah ditunjukkan Kristus kepada saya.

Saya keluar dari pola pikir “gereja besar, berkat besar” ini ketika saya bersekutu di sebuah gereja lokal di kota kecil tempat saya berkuliah di Inggris. Tuhan telah bekerja di tempat dan situasi yang saya paling tidak harapkan. Bahkan, Mazmur 115:3 berkata bahwa Ia melakukan apa saja yang Ia ingini, dimanapun dan kapanpun Ia mau. Pesan utama saya adalah mendorong Anda untuk tidak membiarkan apa yang 'dilihat' secara nyata dan fisik membatasi imanmu kepada Tuhan kita yang agung dan karya-karyanya yang luar biasa untuk mencapai tujuannya di dalam hidup kita.

# 2 “Saya tidak seburuk itu…” menjadi “Sebenarnya, saya seburuk itu…”

Pernahkah Anda berpikir mengenai diri sendiri sebagai orang Kristen yang relatif 'lebih baik' daripada orang yang duduk di sebelah Anda? Pernahkah Anda mencoba mendapatkan perkenanan Allah dengan melakukan lebih daripada apa yang telah Tuhan Yesus sudah lakukan di kayu salib? Atau mungkin pernahkah Anda jatuh ke dalam dosa berkali-kali, sehingga berpikir Tuhan tidak bisa mengampuni lagi?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan bermanfaat seiring saya menjelaskan poin-poin berikutnya. Sering kali menjadi religius berkaitan dengan melakukan sebuah pekerjaan untuk mendapatkan kebaikan Tuhan. Ini tidak jauh berbeda dari aspek lain dalam hidup kita; jika ingin kaya, kita bekerja lebih keras. Jika ingin mendapat nilai bagus, kita belajar lebih cerdas. Namun, ketika menyangkut keselamatan kekal, kasusnya sama sekali berbeda.

Saya telah menjawab ‘ya’ untuk pertanyaan-pertanyaan di atas, dan jika Anda setidaknya memiliki satu jawaban 'ya', kemungkinan besar Anda berpikir secara legalistik dan memiliki pandangan yang menyimpang tentang kasih Tuhan. Legalisme dalam agama Kristen adalah ketika seseorang melakukan pekerjaan dengan mematuhi hukum Tuhan untuk mengamankan kebenaran di hadapan Tuhan. Bahayanya, legalisme membawa akan membawa kita ke jalan ‘membenarkan diri sendiri’ dan ini bukanlah tujuan darah Kristus ditumpahkan. Rasul Paulus dengan jelas berkata di Efesus 2 bahwa keselamatan hanya oleh kasih karunia melalui iman di dalam Kristus, dan "itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,  itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri. "

Beberapa atau banyak dari kita tumbuh dengan pengertian - 'jika kamu lebih patuh, lebih banyak berdoa, lebih sering pergi ke gereja, Bapa di Sorga akan memberkatimu lebih lagi'. Walaupun terdengar baik, cara berpikir seperti ini sama sekali tidak membantu Saya dalam memahami Injil untuk pertama kali. Masalahnya, saya tidak tahu dengan Anda, tetapi saya lebih banyak gagal daripada berhasil dalam hal mengatasi dosa. Saya sudah kehilangan hitung dimana saya merasa terkalahkan. Akan tetapi, Alkitab justru memberitakan Kabar Baik yang telah memberkati saya dengan anugerah terbesar ketika saya adalah orang yang paling tidak layak.

Ketika saya berkata 'Saya seburuk itu', yang saya maksud adalah bahwa saya tidak berdaya dalam menangani keberadaan dosa saya dan untuk menjadi benar di hadapan Tuhan dengan kebenaran dan kekuatan saya sendiri. Saya biasa menghantui diri saya setiap hari dengan pertanyaan "Apakah saya telah berbuat cukup untuk Tuhan hari ini? Apakah Dia senang dengan saya? Apakah Dia sudah menyerah dengan saya karena saya telah melakukan dosa yang sama berulang kali?" Namun, semuanya itu berubah ketika saya berhenti fokus pada diri saya sendiri dan berfokus kepada Yesus.

Ayat ini menjelaskannya:

"Tetapi Allah telah menunjukkan kasih-Nya sendiri terhadap kita dengan demikian: Ketika kita masih berdosa, Kristus telah mati untuk kita.” Roma 5: 8.

Yesus mengesampingkan kekuatan ilahi-Nya dan rela menderita siksaan dan kematian di kayu salib - menggantikan posisi kita - sehingga kita dapat mempercayai Dia dan hanya Dia untuk keselamatan kita.

Tuhan memanggil kita keluar dari penghukuman diri ini. "Marilah kepada-Ku, hai kamu semua yang lelah dan menanggung beban berat" Yesus berkata dalam Matius 11:28. Dia tidak ingin Anda merasa seperti orang Kristen yang baik pada satu hari dan menjadi orang Kristen yang terburuk di hari berikutnya karena Anda tersandung ke dalam dosa. Sesungguhnya, masing-masing dan setiap dari kita adalah orang berdosa di mata Tuhan dan kita semua membutuhkan belas kasihan Tuhan sama seperti yang lain. Dia menyembuhkan saya dari hati yang legalistik sejak satu tahun yang lalu dan saya sangat bersyukur Dia melakukan-Nya!

# 3 "Saya akan menyimpan Yesus ini untuk saya sendiri ..."

Yang ketiga ini akan singkat, tetapi juga penting.

Saya ingat berjalan melalui lorong kampus saya dan melihat tulisan 'Siapakah Yesus?' di papan tulis hitam dengan kapur warna-warni. Ternyata itu dibuat oleh salah satu Serikat Kristen di kampus yang kelihatannya mencoba untuk menarik mahasiswa untuk mengenal Tuhan. "Mengapa mereka perlu melakukan itu?" Saya berpikir dalam hati. "Mengapa mereka tidak menyimpan Yesus untuk diri mereka sendiri?"

Ya, saya adalah seorang Kristen pada saat itu tetapi saya tidak melihat gunanya mereka melakukannya, bukankah mereka akan diabaikan begitu saja? Apakah itu mampu mengubah hidup seseorang?

Saya melirik ke arah stan mereka, berusaha supaya padangan saya tidak tertangkap oleh salah satu anggotanya, bukan karena saya membenci mereka, tetapi lebih karena diam-diam saya tidak nyaman dengan kenyataan bahwa: Saya tidak cukup mencintai Injil Kristus untuk membagikannya sendiri.

Iman yang didorong oleh Injil itu penting. Saya bukan seorang penginjil, saya juga tidak dalam posisi untuk memaksakan Anda apa pun, tetapi saya hanya ingin kalian mempertimbangkan ini: Lagipula, ada alasan mengapa itu disebut 'kabar baik'. Ketika Anda diterima di universitas favorit Anda atau memenangkan sebuah undian, bukankah Anda secara alami akan membagikan berita tersebut kepada orang lain, khususnya jika hal itu memengaruhi mereka?

---

Sekian kesaksian saya untuk postingan ini. Jika Anda dapat merasakan apa yang saya rasakan atau memiliki ketidaksepakatan tentang hal-hal di atas, saya sangat senang untuk obrolan kecil mengenai iman! 😊

Semoga Tuhan memberkati dan tetap jaga kesehatan, teman-teman!🙏

 

 

 

 

 

Comments